Hidup dalam kungkungan Israel, tidak membuat semangat dan perjuangan penduduk Gaza meredup, seperti redupnya lampu di rumah-rumah mereka

Hidayatullah. com–BEBERAPA pekan terakhir, wilayah Jalur Gaza semakin gelap. Pekan lalu pihak pengelola satu-satunya pembangkit listrik di Gaza mengatakan, mereka tidak lagi dapat bertahan. Selain karena pembangkit listrik rusak berat akibat sering dihantam rudal-rudal Israel, bahan bakar pun tidak lagi tersedia, karena blokade Israel.

Sameeha Elwan seorang pelajar Gaza, mencoba tegar menghadapi segala tekanan yang dilakukan Israel kepada mereka. “Makan malam yang romantis,” katanya mengambil sisi terang dari suramnya malam yang mendera mereka, ketika Gaza semakin gelap gulita.

***

Malam ini, seperti malam-malam sebelumnya, kami menggelar candlelight dinner yang romantis. Tentu saja, terima kasih kepada Israel yang menjadikan keadaan demikian.

Menyalakan lilin di atas meja, bukan karena kami mempunyai acara spesial, tidak ada yang berulang tahun. Lilin, sudah menjadi kebutuhan pokok bagi kami penduduk Gaza. Lilin, menjadi satu-satunya sumber cahaya, karena kini tidak ada lagi aliran listrik.

Lampu-lampu padam. Ayah seperti biasanya bertanya jika ruangan tampak gelap, “Apakah listrik padam?”

Tertawa mendengar pertanyaannya, serentak kami menjawab–seperti biasanya, “Ya.”

Ibu mempersiapkan sesuatu di dapur. Ia agak kesal melihat peralatan dapurnya kini tak berdaya. Ia mulai mengutuk Israel, seperti sejak hari pertama mereka menginjakkan kakinya di tanah kami. Sadar peralatannya tidak lagi berguna sekarang, ia mulai mempersiapkan makan malam dengan “tangan kosong”.

Adik perempuanku, yang mengeluhkan membaca buku dalam keadaan gelap membuat kepalanya sakit, mencoba pergi ke kamar untuk segera tidur. Tapi matanya tidak dapat terpejam, maka ia pun mendekati ibu, yang kemudian menceritakan kisah perjalannya di masa lampau, ketika ia pergi ke Tepi Barat.

Kasihan Israel! Mereka tidak tahu, bahwa apapun yang mereka lakukan terhadap kami, tindakan mereka hanya menambah erat ikatan batin kami dengan tanah air tercinta.

Adik kecilku yang laki-laki, seorang penggemar klub sepakbola Barcelona, gusar karena ia lagi-lagi tidak bisa menyaksikan pertandingan klub kesayangannya. Tidak lagi bisa berteriak seru ketika para pemain andalannya melesakkan gol ke kandang lawan.

Sebenarnya, aku suka belajar dengan diterangi cahaya lilin. Rasanya romantis, dan perhatian tidak lagi terpecah dengan hal-hal yang bisa membuang waktu percuma, terutama saat musim ujian sekolah.

Sayangnya, tidak banyak orang yang memiliki perasaan dan pikiran yang sama. Banyak orang yang tidak bisa belajar hanya dengan sedikit cahaya dari lilin. Sebagian, karena memilki masalah dengan penglihatannya.

Ibu yang mulai kedinginan, meminta agar penghangat ruangan segera dinyalakan. Beliau lupa jika alat itu hanya bisa bekerja dengan tenaga listrik.

Aku jadi merinding, membayangkan banyak orang–dalam keadaan dingin yang mengigit seperti ini–tidak lagi memiliki tempat bernaung, karena rumah mereka rusak atau bahkan hancur lebur dihantam senjata-senjata Israel yang menyerang Gaza.

Berita yang dulu hanya rumor, kini menjadi kenyataan: Al-Dardasawi, direktur humas perusahaan listrik satu-satunya di Gaza, Sabtu pekan lalu mengumumkan bahwa mereka mulai kehabisan bahan bakar. Tidak ada alasan lain yang disampaikan, kecuali karena Israel memblokade masukknya bahan bakar ke Gaza.

Satu kebenaran yang lucu, tetapi pahit adalah, bahwa kami orang-orang Gaza sanggup bertahan dalam keadaan yang sangat buruk sekalipun. Kehidupan dalam kurungan blokade brutal Israel selama tiga tahun ini, yang mengajarkan kami untuk tetap bertahan.


Israel sedikit demi sedikit melucuti hak-hak asasi kami, hingga kami tak memiliki apa-apa lagi. Sebelumnya, mereka mengurangi jumlah bahan bakar yang boleh masuk ke Gaza, sehingga kami terpaksa harus hidup dalam kegelapan selama delapan jam setiap beberapa hari. Kami pun berusaha menyesuaikan diri, dan berpikir, “Baiklah, delapan jam setiap beberapa hari lebih baik daripada delapan jam setiap hari.”

Kemudian, persediaan bahan bakar pun semakin dikurangi oleh Israel. Hingga kami harus hidup tanpa listrik 8 hingga 10 jam setiap harinya. Kami pun berpikir, “Baiklah, kami sanggup mengatasinya. Kami masih ada listrik, meskipun sedikit. Bukankah separuh potong roti lebih baik daripada tidak ada sama sekali?”

Keadaan seperti ini sudah lama berlangsung. Tidak hanya dengan listrik, tapi juga dengan barang-barang kebutuhan dasar lainnya; makanan, bahan bakar, dan bahkan susu untuk anak-anak.

Israel melucuti hak-hak asasi kami, dan mereka ingin kami berterima kasih karena mereka mengembalikannya sedikit kepada kami. Sedikit dari banyak yang telah mereka ambil dari kami.

Apakah Israel dan seluruh dunia pikir, dengan mengembalikan sedikit dari apa yang sebenarnya menjadi milik kami, akan membuat kami lupa dengan kepungan yang tidak manusiawi ini, lupa dengan para pengungsi, lupa dengan hak untuk kembali ke tanah air, tanah kami yang dijajah, dengan Yerusalem?

Apakah mereka pikir kami akan berterima kasih, jika mereka mengembalikan apa yang sebenarnya memang milik kami?

Wahai Israel, kami tidak akan berterima kasih. Karena apa yang kalian beri, adalah memang sesungguhnya milik kami. Kami punya hak sebagai manusia. Kami punya hak sebagai orang Palestina.

Dan apakah setelah semua yang telah kalian perbuat kepada kami, kalian akan bertanya; “Mengapa orang Palestina marah?” [di/plt/www.hidayatullah.com]