Layang2 palestina

 

GAZA (SuaraMedia News) – Sekitar 6.000 anak-anak dari 119 sekolah di Gaza berkumpul di pantai Beit Lahiya dan memecahkan rekor dunia menerbangkan layang-layang dalam jumlah paling banyak secara bersamaan pada hari Kamis. Para pengamat mengatakan mereka menghitung setidaknya 3.000 layang-layang yang diterbangkan ke udara dalam waktu yang bersamaan, dan dengan itu memecahkan rekor sebelumnya yang berjumlah 710 layang-layang di Jerman.

Zuhir Haneya, seorang pejabat pemerintah yang menyaksikan acara itu, mengatakan lebih dari 6.000 anak-anak berpartisipasi dan lebih dari separuhnya berhasil menerbangkan layang-layang yang mereka buat sendiri itu.

“Tujuh belas dari setiap 20 anak  berhasil menerbangkan layang-layangnya dalam waktu bersamaan,” ujarnya.

Acara itu merupakan bagian dari program Summer Games yang diselenggarakan oleh UNRWA (UN Relief and Works Agency) yang diberikan kepada anak-anak Palestina di masa liburan sekolah. Ribuan guru mengorbankan libur musim panasnya untuk ikut serta dalam program ini tiap tahun, berusaha menciptakan pengalaman positif selama musim panas bagi anak-anak Gaza. Sebuah tugas yang menantang karena anak-anak Gaza dihadapkan pada dampak blokade Israel terhadap wilayah mereka, yang sekarang masuk tahun ketiga, dan masih mengalami trauma psikologis dari perang yang terjadi beberapa bulan lalu.

Meskipun hanya 200.000 anak yang terdaftar bersekolah di sekolah-sekolah yang dijalankan oleh PBB, terdapat sekitar 240.000 anak yang berpartisipasi dalam Summer Games, membuktikan bahwa program UNRW ini telah menjadi aktivitas yang populer di masa libur musim panas.

Meski program Summer Games bertujuan untuk membantu murid-murid yang ketinggalan pelajaran untuk meningkatkan nilai akademisnya, acara menerbangkan layang-layang itu murni bertujuan untuk memecahkan rekor.

Seorang juru bicara PBB mengatakan, “Simbolisme dari ribuan anak-anak, di salah satu komunitas paling terkucilkan di dunia, membuat layang-layang yang indah, menerbangkannya ke udara, sangat indah.” John Ging dari UNRW mengatakan tantangannya adalah “sebuah ekspresi kebebasan dari anak-anak ini.”  Anak-anak itu berharap dapat menghentikan blokade Israel terhadap wilayahnya.

Panitia dari Guinness Book of World Records diundang untuk menyaksikan dan memverifikasi upaya pemecahan rekor itu, namun karena adanya larangan dari pemerintah Inggris untuk melakukan perjalanan ke Jalur Gaza dengan alasan keamanan, mereka hanya mengirimkan buku panduan ke pihak penyelenggara agar upaya pemecahan rekor itu sah dan dapat tercatat dalam buku rekor.

Lebih dari 119 sekolah memesankan sejumlah area terbuka di pantai untuk murid-muridnya. Pengawas independen yang diorganisir oleh Komite Palang Merah mengawasi tiap area sekolah dan mendaftar nama tiap anak.

Untuk dapat masuk ke buku rekor, layang-layang yang diterbangkan harus berada di udara selama 30 detik secara bersamaan.

Media internasional ikut menyaksikan acara pemecahan rekor itu.

Bagaimanapun, menurut penyelenggaranya acara itu bukan hanya tentang memecahkan rekor. Ada pesan penting yang ingin disampaikan ke seluruh dunia melalui acara itu.

“Ribuan layang-layang terbang di angkasa dengan anak-anak yang memandang ke langit dan membiarkan pikiran mereka ikut terbang, beralih dari segala penderitaan yang mereka alami dalam kehidupan sehari-hari. Acara ini adalah simbol pencarian kebahagiaan, kebebasan, dan pemenuhan kebutuhan hidup manusia,” ujar Chris Gunness, juru bicara UNRW. (rin/alj/pd/imc)